CILEGON, Ungkap Publik — Jumat pagi, 18 September 2026, perjalanan penuh haru mengarungi perairan Selat Sunda. Bersama KN SAR Tetuka 247, istri dan anak Yudhistiro Pranoto, jurnalis iNews yang hilang kontak, berlayar menuju titik terakhir keberadaan speedboat Arupadhatu 1. Bukan sekadar menyusuri laut — mereka datang untuk berbicara lewat bunga yang ditabur, dan doa yang terkirim ke angin.
Kapal bertolak dari Pelabuhan Pelindo 3 Ciwandan, Kota Cilegon. Di atasnya, keluarga yang merindu, serta rekan-rekan seprofesi yang turut berduka cita. Nahkoda KN SAR Tetuka, Septa Arif Rohadi, menyaksikan langsung momen yang menyentuh hati itu.
Ketika kapal tiba di koordinat terakhir, bunga-bunga dijatuhkan ke permukaan air — melambai, lalu perlahan menyatu dengan gelombang.
“Momen itu berlangsung penuh haru. Sebuah penghormatan sekaligus doa, semoga pencarian seluruh korban diberikan kelancaran dan hasil terbaik,” ujar Septa.
Bagi keluarga, tabur bunga ini bukan sekadar seremoni. Di hadapan laut yang luas, mereka menyampaikan cinta, rindu, dan harapan — agar Yudhistiro beserta tujuh sahabatnya segera ditemukan.
Rekan-rekan media yang ikut hadir tak hanya memberi penghormatan, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana upaya pencarian terus berjalan — dari laut maupun dari udara, menyisir sektor demi sektor tanpa henti.
Hingga kini, delapan orang yang hilang kontak masih dinyatakan dicari. Namun di tengah perjuangan tim penyelamat, ada doa keluarga yang tak pernah putus — mengalir tenang, seiring ombak Selat Sunda. (Utari/Red)

Tinggalkan Balasan