LEBAK, Ungkap Publik — Di bawah langit cerah Rabu pagi, 16 September 2026, Lapangan Apel Kodim 0603/Lebak bukan sekadar hamparan tanah dan rumput. Hari itu, tempat yang biasa digelar upacara militer berubah menjadi ruang pembentukan karakter bagi ratusan pelajar dari tujuh sekolah di wilayah Rangkasbitung.

Berbaris rapi, seragam tertata, pandangan lurus ke depan — mereka adalah siswa-siswi SMA Negeri 1, 2, 3 Rangkasbitung, MAN 1 Lebak, SMK PGRI Rangkasbitung, serta SMP Negeri 1 dan 4 Rangkasbitung. Di bawah arahan tegas namun sabar Koptu Jasmin, mereka belajar bukan sekadar mengangkat kaki atau mengubah arah, melainkan menyelaraskan langkah dengan jiwa kedisiplinan.

Dari sikap sempurna yang menuntut keteguhan, sikap istirahat yang mengajarkan kesiapan, hingga penghormatan yang melatih rasa hormat — setiap gerakan dikoreksi, dibenarkan, dan disempurnakan. Keseragaman bukan sekadar tampilan, melainkan cerminan kekompakan yang tumbuh dari perhatian satu sama lain.

Kapten Arh Tri Winarto, Pasi Intel Kodim 0603/Lebak, melihat hal ini lebih dalam dari sekadar latihan fisik.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata kedekatan TNI dengan dunia pendidikan. Melalui baris-berbaris, kami tidak sekadar melatih gerakan — kami menanamkan kedisiplinan, kepatuhan, semangat kebersamaan, dan tanggung jawab. Nilai inilah yang menjadi bekal sejati mereka, baik di sekolah maupun saat terjun ke masyarakat,” ujarnya dengan tenang namun tegas.

Bagi para pelatih, kehadiran di sini juga bermakna lain: menumbuhkan rasa hormat dan kebanggaan generasi muda terhadap institusi TNI — bukan sebagai kekuatan bersenjata, melainkan sebagai sahabat yang peduli pada masa depan bangsa.

Koptu Jasmin menegaskan, setiap aba-aba mengandung makna.

“Baris-berbaris bukan soal gerakan indah. Ini tentang melatih diri taat pada aturan, menjaga teman di samping, dan memikul tanggung jawab atas nama kelompok. Kalau gerakan satu orang keliru, semua terlihat — dan semua berbenah bersama.”

Di tengah keringat yang menetes, terlihat wajah-wajah yang berusaha. Kadang tertukar arah, kadang tidak serempak — namun tak ada yang menyerah. Mereka berlatih mengikuti aba-aba, menyelaraskan langkah, belajar menjadi satu kesatuan yang utuh.

Ketika latihan usai, yang pulang bukan sekadar pelajar yang pandai berbaris. Mereka pulang membawa pemahaman baru: bahwa kedisiplinan adalah kekuatan, kekompakan adalah keindahan, dan tanggung jawab adalah bekal paling berharga untuk masa depan.

Langkah tegap pagi itu menjadi janji diam — bahwa generasi muda Lebak siap melangkah lebih mantap, lebih disiplin, dan lebih percaya diri. (Red)