LEBAK, Ungkap Publik — Dinding hebel mulai terpasang rapi di rumah Bapak Apin, seorang petani berusia 49 tahun di Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber. Di tangan-tangan yang bekerja bersama, tumpukan bata ringan itu bukan sekadar bangunan baru — ia adalah harapan yang perlahan terbentuk, perlahan berdiri tegak.

Bagi Apin, rumah yang dulu lapuk kini perlahan berubah wajah. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0603/Lebak, renovasi Rumah Tidak Layak Huni miliknya kini memasuki tahap pemasangan dinding. Di lokasi itu, tak hanya terlihat seragam TNI, Polri, dan instansi lain, tetapi juga warga desa yang bahu-membahu mengangkat material, meratakan adukan, dan menyusun bata.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena rumah saya mendapat bantuan renovasi melalui program TMMD ke-130,” ungkap Apin dengan wajah berseri. “Saya melihat anggota TNI, Polri, dan personel lainnya bekerja bersama untuk membantu memperbaiki rumah kami.”

Setiap dinding yang terpasang dibangun di atas semangat gotong royong yang nyata. Personel gabungan dari Kodim 0603/Lebak, Polres Lebak, Lanal Banten, Yonif TP 840/GS, dan warga setempat bekerja berdampingan. Pengerjaan tetap memperhatikan ketelitian dan kekuatan struktur, agar hasilnya tidak hanya indah dipandang, tetapi aman dan nyaman untuk dihuni dalam jangka panjang.

Sebagai petani yang menghabiskan harinya di ladang, Apin hanya menginginkan satu hal sederhana: tempat beristirahat yang layak bagi keluarganya. Kehadiran dinding baru itu memberinya lebih dari sekadar atap dan tembok yang kokoh — ia memberinya rasa aman, martabat, dan senyum yang lebih lebar di wajah istrinya dan anak-anaknya.

“Saya berharap pengerjaannya berjalan lancar sampai selesai,” tambahnya. “Terima kasih kepada Kodim 0603/Lebak beserta seluruh personel dan masyarakat yang ikut bergotong royong. Semoga kebaikan ini membawa manfaat bagi keluarga kami dan masyarakat Desa Citorek Barat.”

Renovasi rumah Apin adalah satu dari sekian kisah sederhana di balik program TMMD ke-130. Sebuah bukti bahwa pembangunan bukan hanya soal jalan yang mulus atau jembatan yang kuat. Terkadang, pembangunan yang paling berarti adalah dinding rumah seorang petani yang kini berdiri tegak — dibangun dengan tangan bersama, didirikan di atas dasar kepedulian yang kokoh. (Red)