LEBAK, Ungkap Publik – Udah nggak tahan lagi disebut-sebut sebagai oknum LSM oleh salah satu media online, JD – yang sekaligus jadi pengurus LSM dan pekerja lapangan di Kabupaten Lebak – akhirnya membuka suara. Dirinya memang ditugasin ngawasin pekerja yang lagi memasang tiang WiFi di beberapa jalanan daerah ini.

“Benar saya pengurus LSM, tapi itu cuma wadah berorganisasi doang, bukan perusahaan yang nyari kerjaan. Harusnya dibedain dong! Saya kerja di perusahaan, ditugasin di lapangan, dan nggak pernah pake nama organisasi buat apa-apa. Sebagai warga negara Indonesia, saya juga punya hak cari kerja dan hidup layak kan? Tapi saudara Z yang bilang dirinya wartawan malah ngomong saya oknum LSM – jelas itu tudingan tanpa dasar!” ujar JD saat berbincang dengan kami Minggu (1/2/2026).

Bukan cuma itu, JD juga merasa heran banget sama sikap Z dan IN yang bilang diri pengurus ormas. Menurut dia, perilaku mereka terkesan arogan dan kayak preman aja.

“Bilang aja wartawan tapi kelakuannya nggak ada etiknya. Dateng langsung ke lokasi dan nyetop kerjaan kami. Kita mau tanya, mereka datang sebagai apa sih? Kalau memang wartawan, harusnya tahu aturan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dong. Beneran kah tindakan mereka sesuai kaidah jurnalistik? Malah saya juga pernah dikasih ancaman lho,” tambahnya.

JD cerita, udah beberapa kali ketemu sama Z dan IN, bahkan udah banyak kali jelasin dengan baik. “Mereka terus-terusan nanya soal izin dan menekan saya. Padahal saya udah bilang buat mereka hubungi langsung pihak manajemen atau datang ke kantor perwakilan perusahaan. Bahkan saya juga pernah kasih uang buat bensin, terakhir Z minta rokok saya juga beliin – padahal saya juga cuma pekerja biasa aja,” jelas JD dengan nada sedikit kesal.

Rekan kerja JD yang juga ditugasin di lapangan, MK, punya pendapat sama aja. Menurut dia, sikap arogan dan tindakan yang keluar dari wewenang yang dilakukan Z dan IN nggak pantas banget.

“Kita juga merasa sayang sama sikap mereka, padahal kan mereka juga kenal baik sama kita. Soal izin dan hal lainnya, udah kita bilang buat mereka langsung dateng ke kantor perwakilan atau hubungi pihak yang ngurus izin. Kita nggak pernah ngehalangin mereka apa-apa, kan cuma ditugasin ngawasin pekerja di lapangan doang. Malah mereka malah menekan para pekerja, padahal kan mereka juga udah beberapa kali ke kantor perusahaan kita. Jadi kita juga bingung, apa tujuan mereka sebenarnya ya? Kalau memang profesional, ya langsung konfirmasi ke pihak yang berwenang dong,” ujar MK.

Ditanya tentang izin, MK bilang udah ngelaporin masalah ini ke pihak perwakilan perusahaan yang ngurusin izin.

“Bukan cuma mereka aja, kita juga udah kasih tau masalah ini ke kantor. Penjelasan dan prosesnya lagi jalan nih. Kan kita juga nggak punya wewenang lebih dari itu. Yang jelas, tugas kita cuma ngawasin biar pekerjaan sesuai gambar yang udah dibuat. Kita juga cuma pekerja yang digaji aja. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik ya, dan kalau mereka mau kerja sama perusahaan juga boleh banget, tinggal hubungi langsung pihak manajemen aja. Apakah kita salah cuma kerja sesuai tugas?” pungkas MK.

Terpisah, Z – jurnalis salah satu media online yang melansir berita dengan sub judul “Dibekingi dua oknum LSM, ratusan tiang Wi-Fi my republik berdiri di tanah pemkab Lebak tanpa izin” – membenarkan dirinya yang melansir berita tersebut.

“Bukannya dihentikan pemasangan malah mereka masih melakukan aktivitas, sekarang penarikan kabel di jalan arah pasar Rangkasbitung sedang berlangsung,” ujar Z, Rabu (4/2/2026). (Red)