LEBAK, Ungkap Publik – Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya menegaskan Kabupaten Lebak wajib menjadi daerah penopang ketahanan pangan nasional. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri panen raya golden melon milik Kelompok Tani Margawana Mulia di Kecamatan Cileles, Kamis (14/5/2026).

Panen kali ini menghasilkan sekitar 30 ton melon premium yang dipanen bertahap selama sebulan. Keberhasilan ini membuktikan pertanian Lebak makin berkembang dan mampu menembus pasar ritel modern.

Hasbi mendorong pengembangan hortikultura karena bernilai ekonomi tinggi. “Lebak sebagai daerah aglomerasi harus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional, menuju swasembada,” ujarnya.

Ia menekankan pembangunan jalan tetap prioritas, karena sangat berpengaruh pada distribusi hasil bumi. “Jangan sampai kebun ada tapi akses rusak, percuma saja,” tegasnya.

Empat fokus utama pembangunan dalam RPJMD Lebak meliputi infrastruktur jalan, ketahanan pangan, penanganan kemiskinan ekstrem lewat RTLH, dan penataan kawasan perkotaan. Ia juga mengingatkan agar lahan pertanian tetap dijaga dan tidak dialihfungsikan.

“Presiden Prabowo menginginkan seluruh kekuatan negara bergerak bersama wujudkan ketahanan pangan, termasuk TNI, Polri, dan Kejaksaan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Banten Amal Jayabaya menilai panen ini bukti nyata kesiapan Lebak jadi motor penggerak pangan di Banten. Kadin siap serap hasil panen petani agar nilainya lebih tinggi dan petani untung lebih besar. “Semoga keberhasilan ini menular jadi inspirasi petani lain,” ucapnya.

Hasbi juga mengungkap tekanan fiskal akibat pemotongan Transfer Ke Daerah (TKD) senilai Rp118 miliar, dengan defisit sekitar Rp120 miliar. Meski begitu, ia optimis pembangunan tetap berjalan lewat kolaborasi dan pengelolaan anggaran transparan.

“Era sekarang serba terbuka, semua bisa dipantau publik. Pemimpin harus amanah dan utamakan rakyat,” ucapnya.

Pembina Kelompok Tani, Agus R Wisas, menjelaskan budidaya melon di lahan 4 hektare ini menguntungkan, panen cukup 65 hari dan pembayaran tunai. Harga di tingkat petani sekitar Rp20 ribu per buah, jauh lebih murah dibanding di pasar modern yang tembus Rp48 ribu. Ke depannya, kelompok ini juga mulai tanam 8.000 batang cabai yang siap panen bulan depan.

Acara ini dihadiri unsur Forkopimda, kepala dinas, tokoh masyarakat, ulama, hingga pelaku usaha pertanian. (Red)