LEBAK, Ungkap Publik — Di lereng perbukitan Cipanas, air yang dulu mengalir sia-sia kini mulai disusun dalam sebuah sistem yang akan menyalurkannya ke hamparan sawah. Inilah wajah baru pertanian di Desa Jayapura, tempat program pipanisasi sedang tumbuh, menjawab kerinduan petani akan ketersediaan air yang stabil.
Minggu pagi itu, Dandim 0603/Lebak Letkol Inf I Gede Mahendra Subrata turun langsung ke Kampung Cikeris, meninjau progres yang telah berjalan separuh jalan. Di matanya, pipanisasi bukan sekadar saluran air — melainkan jembatan menuju ketahanan pangan yang lebih kuat.
“Ini program manunggal air, pendampingan bersama Kementerian Pertanian dan TNI AD. Penampungan sementara, lalu disalurkan ke sebaran hingga ke petani. Air sampai ke ladang sesuai kebutuhan,” ungkap Letkol Mahendra.
Dua bak induk dan delapan bak sebaran akan berdiri di Cipanas, memanfaatkan aliran sungai dan curug di kawasan perbukitan untuk melayani 320 hektare sawah. Tak jauh dari sana, di Cibeber, sistem serupa akan menghidupkan 400 hektare lahan pertanian lainnya.
Proyek yang telah mencapai 50 persen ini diharapkan rampung sebelum musim hujan tiba. Dan yang paling penting: kebutuhan ini lahir dari masyarakat sendiri, bukan dipaksakan dari atas.
Bagi Dulharif, Ketua Kelompok Tani Cikeris 2, kehadiran pipanisasi adalah jawaban atas doa yang terucap setiap kali musim kemarau datang.
“Selama ini kami kekurangan air. Alhamdulillah, terima kasih kepada pemerintah dan TNI yang memperjuangkan ini untuk kami yang benar-benar membutuhkan,” ucapnya tulus. Harapannya sederhana: air yang cukup, panen yang melimpah, dan masa depan yang lebih pasti bagi petani di desanya. (Red)

Tinggalkan Balasan