LEBAK, Ungkap Publik — Di sepanjang pesisir Kabupaten Lebak, ada harapan yang terjalin dengan ombak. Laut bukan sekadar pemandangan, melainkan dapur, sekolah, dan masa depan bagi ribuan keluarga nelayan kecil. Namun kini, kebijakan pembatasan ekspor benih bening lobster (BBL) membuat mereka berdiri di persimpangan: menjaga ekosistem laut yang mereka cintai, atau menyambung nyawa keluarga yang bergantung pada hasil laut itu sendiri.

Anan Al Jihad, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lebak, memahami betul urgensi menjaga kelestarian laut. Namun ia bertanya: apakah pelestarian harus selalu dibayar oleh mereka yang paling lemah?

“Jangan sampai atas nama menjaga kelestarian ekosistem, pemerintah justru menghadirkan kebijakan yang berpotensi mempersempit ruang kesejahteraan nelayan,” ujarnya dengan nada yang tenang namun tegas.

Bagi nelayan kecil, aturan yang datang tiba-tiba terasa seperti ombak besar yang menghantam perahu kecil mereka. Tanpa persiapan, tanpa alternatif, dan tanpa kepastian ke mana harus melaut selanjutnya. Padahal, jika masalah utamanya adalah penangkapan berlebih, penyelundupan, atau tata niaga yang tidak sehat — seharusnya itulah yang dibenahi, bukan memutus sumber penghidupan mereka.

“Kalau ruang ekonominya dibatasi, lalu apa solusi konkret yang disiapkan negara?” pertanyaan ini tergantung di udara, sederhana namun berat.

HMI Cabang Lebak percaya: menjaga lobster dan menjaga nelayan bukan dua hal yang saling bertentangan. Laut yang lestari dan rakyat yang sejahtera harus berjalan beriringan. Negara tidak boleh memaksakan satu kepentingan dengan mengorbankan kepentingan lainnya. Sebab pada akhirnya, kebijakan terbaik bukanlah yang hanya terlihat indah di atas kertas, melainkan yang benar-benar dirasakan keadilannya oleh setiap orang — termasuk mereka yang pulang membawa ikan di pinggir pantai.

“Kebijakan yang benar adalah kebijakan yang mampu menjaga laut tetap lestari sekaligus memastikan masyarakat pesisir tetap sejahtera,” tutup Anan. Sebuah harapan sederhana, yang layak didengar. (Red)