PANDEGLANG, Ungkap Publik — Demi menemukan delapan orang yang hilang kontak bersama speedboat Arupadhatu 1 di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Tim SAR Gabungan terus bergerak menyisir setiap jengkal perairan Selat Sunda. Memasuki hari kesembilan sekaligus hari kedua perpanjangan, wilayah yang ditelusuri semakin luas, namun kapal dan para penumpangnya belum juga ditemukan.

Al Amrad, S.Sos., Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, menjelaskan kondisi lapangan saat ini: jarak pandang terbatas hanya 1–2 mil laut, gelombang bergerak setinggi 0,5 hingga 2,5 meter. Gunung Anak Krakatau tetap berstatus Siaga Level III, meski pada hari ini tidak terjadi erupsi.

Kekuatan yang dikerahkan pun tak dikurangi — sebanyak 22 sarana laut turun ke lapangan:

– 8 unit dari TNI Angkatan Laut (5 KRI, 2 KAL, 1 RBB)
– 8 unit kapal kepolisian
– 3 unit kapal Basarnas
– 1 unit KPLP
– Serta kapal dari Dit Polair Lampung dan Banten

Penyisiran dibagi ke dalam delapan sektor, menjangkau wilayah yang sangat luas: dari Teluk Belimbing, sekitar Pulau Sebesi, Samudera Hindia, Ujung Kulon, Pulau Panaitan, sebelah barat Gunung Anak Krakatau, Teluk Kalianda, Pahawang, hingga Anyer dan Marina Carita. Setiap kapal bertugas menyisir selama 7 hingga 10 jam.

Namun hingga saat ini, hasilnya tetap nihil di seluruh sektor. Pencarian tambahan yang dilakukan hingga wilayah Bengkulu — Pulau Gadung dan pesisirnya — serta penyebaran informasi ke kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda, belum juga membuahkan petunjuk.

“Jadi sampai hari kesembilan ini, kapal tersebut masih belum ditemukan,” ujar Al Amrad dengan nada tertahan.

Delapan orang yang masih ditunggu keberadaannya: Warta (nahkoda), Surakman (ABK), Heriyanto (pemandu), serta jurnalis M. Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudhistiro Pranoto, Firdaus Jaidi, dan Donal.

Meski waktu terus berjalan dan hasil belum terlihat, upaya tak berhenti. Selat Sunda yang luas dan dalam masih menyimpan rahasianya, namun harapan tak pernah padam.(Red)