LEBAK, Ungkap Publik – Program penebangan hutan produksi Perhutani wilayah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, yang berjalan sejak 2024, molor hingga akhir 2025. Ratusan hektare lahan penebangan diduga belum rampung dikerjakan, memunculkan keraguan atas perencanaan dan pengelolaan hutan di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Data menunjukkan total lahan penebangan mencapai 7.433,12 hektare, tersebar di RPH Cileles (2.395,72 ha), RPH Cimarga (2.125,27 ha), dan RPH Muncang (2.912,13 ha). Komoditas utama mahoni dan akasia mangium yang ditargetkan selesai ditebang akhir 2025, nyatanya belum tercapai sepenuhnya.
Tim Ungkappublik.id telah berupaya meminta keterangan kepada Kepala Seksi Pengelolaan Hutan (Asper) Perhutani Rangkasbitung, Titan, namun hingga kini tidak ada respons.
Sejumlah pertanyaan krusial masih menggantung: berapa Target Operasi Produksi (TOP) tahun 2024 dan 2025, berapa persen realisasi dan sisanya? Bagaimana target tahun 2026 serta realisasi yang sudah masuk? Selain itu, masyarakat juga mempertanyakan kegiatan penanaman dan peremajaan hutan tahun 2024–2025, jenis pohon, jumlah bibit, kebutuhan pupuk, pemeliharaan, hingga pembagian dana bagi hasil untuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan/Kelompok Tani Hutan yang terlibat.
Keterbukaan data dan penjelasan dari Perhutani Rangkasbitung dinilai mendesak untuk menjawab kebingungan publik soal keterlambatan dan transparansi pengelolaan hutan. (Red)

Tinggalkan Balasan