LEBAK, Ungkap Publik – Acara halal bihalal yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan justru berujung polemik hangat. Bupati Lebak Hasby Jayabaya menyampaikan pidato yang dianggap mengandung unsur penghinaan serta pencemaran nama baik Wakil Bupati Amir Hamzah. Peristiwa ini langsung menyebar luas di media sosial dan menuai sorotan dari berbagai kalangan masyarakat hingga aktivis mahasiswa.
HMI: Kondisi Politik Daerah Masuk Siaga 01
HMI Komisariat Insan Cita Cabang Lebak menyoroti kondisi politik di daerah yang kini masuk status siaga 01, akibat dinamika antar pemimpin yang tak kunjung reda.
“Pada momentum halal bihalal yang seharusnya memperkuat kerukunan antar sesama, sangat disayangkan justru terjadi pertikaian antara pemimpin nomor satu dan dua Kabupaten Lebak,” ujar pihak HMI dalam keterangan resmi mereka.
Dalam pidatonya saat acara tersebut, Bupati Hasby menyebutkan bahwa Wabup Amir Hamzah pernah menjadi narapidana. Meskipun informasi tersebut benar, pihak HMI menilai hal tersebut tidak pantas disampaikan di depan khalayak ramai karena tidak mencerminkan sosok kepemimpinan yang ruhani dan tidak memberikan manfaat apapun bagi kemajuan, kerukunan, serta keamanan Kabupaten Lebak ke depannya.
Kabid PTKP HMI Insan Cita Cabang Lebak Egi Maulana mengungkapkan, seorang pemimpin seharusnya menjadi contoh teladan dan membawa edukasi positif bagi bawahannya. “Kinerja pemimpin tidak mungkin tercapai tanpa dukungan dari pejabat struktural di bawahnya. Sikap egoisme perlu segera dievaluasi agar tercipta keharmonisan dan gotong royong dalam membangun Lebak. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini akan bertentangan dengan prinsip-prinsip e-government yang kita cita-citakan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Komisariat Insan Cita Naoval Ardan menyatakan kejadian ini sangat mengejutkan. Menurutnya, seorang pemimpin daerah seharusnya tidak menyampaikan hal yang tidak penting dan tidak sesuai dengan etika kepemimpinan.
“Kami bersikeras mengecam agar pemimpin daerah tidak melakukan tindakan mencemooh orang lain. Cukup kami sebagai masyarakat yang mengkritisi, silakan fokus bekerja dengan baik karena masih banyak persoalan penting di Lebak yang belum terselesaikan,” tegas Naoval.
Ia menambahkan, pemimpin yang religius harus memiliki karakteristik sidik, amanah, tabligh, dan fatonah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. “Bupati kali ini tidak pantas disebut sebagai pemimpin dan tidak layak dijadikan teladan bagi pemuda masa kini. Terlihat sudah terjadi kebobrokan dari sisi nilai-nilai kepemimpinan,” tandasnya.
PMII: Konflik Personal Buktikan Fokus Belum Pada Kemajuan Daerah
Tak hanya HMI, PC PMII Lebak juga turut mengangkat suara terkait polemik yang tengah mengguncang daerah ini. Ketua Umum PC PMII Lebak Muhamad Nurajimanto mengatakan, peristiwa yang mencuat antara Bupati Lebak Moch Hasbi Jayabaya dan Wabup Amir Hamzah seharusnya menjadi refleksi penting bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, terutama di tengah berbagai persoalan yang masih menghadang masyarakat Lebak.
“Konflik personal seperti ini justru menunjukkan bahwa fokus utama pemimpin belum sepenuhnya diarahkan pada kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Alih-alih memperlihatkan soliditas dan komitmen bersama dalam membangun Lebak, yang muncul ke permukaan justru dinamika internal yang bernuansa saling menyerang. Padahal, kata dia, masyarakat lebih membutuhkan kerja nyata mulai dari peningkatan ekonomi rakyat, pemerataan akses pendidikan, hingga peningkatan kesejahteraan sosial, bukan polemik yang tidak produktif dan hanya membuang waktu.
“Momentum kebersamaan seperti halal bihalal seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperkuat sinergi antar pemimpin daerah. Namun jika yang terjadi justru konflik, maka wajar saja jika publik mulai mempertanyakan arah dan prioritas kepemimpinan saat ini,” jelasnya.
Pemerintah daerah dituntut untuk segera melakukan evaluasi diri, meredam ego sektoral, dan kembali fokus pada tugas utama mereka yaitu menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Lebak.
“Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat bukanlah konflik antar pemimpin, melainkan solusi konkret dan bukti nyata pembangunan yang dirasakan langsung,” tegas Muhamad Nurajimanto. (Red)


Tinggalkan Balasan